Alam raya yang makin terasing dari penghuninya, kelestarian hutan yang tak terjaga dan berdampak pada munculnya banjir dan gersangnya bumi, masyarakat kian terasing di tanahnya sendiri dan sebagainya. Belum lagi persoalan pendidikan yang abai terhadap kekayaan budaya lokal, kebutuhan khusus dan keunikan generasi. Persoalan-persoalan ekonomi yang kian abai terhadap kesejahteraan pedagang kecil dan rakyat kecil.
Persoalan politik yang banyak melahirkan perang, pertumpahan darah, kematian, kehilangan harta benda serta hukum yang mandul. Korupsi yang kian merajalela dan kesehatan masyarakat kecil yang luput dari perhatian dan tanggungjawab Negara, terutama di Negara-negara yang sedang berkembang dan yang belum berkembang. Dan, hal yang paling krusial dalam perkembangan mental adalah menipisnya kesadaran sebagai manusia, rusaknya karakter diri dan berbagai persoalan lainnya.
Adapun
yang paling mengalami dampak terburuk dari ragam situasi di atas adalah
perempuan[1]:
menjadi tameng dan objek penundukan oleh pihak lawan ketika konflik[2] (lihat
Serbia[3], Nepal[4],
Afrika[5], Aceh[6],
dst), mengalami kemiskinan terberat[7] dan
seterusnya. Bila kondisi di atas terus dibiarkan berlarut-larut dan tidak
diselesaikan dengan penuh tanggung jawab, maka peradaban akan terguncang, rasa
kemanusiaan terkikis, dan pelan-pelan akan habis. Menyadari realitas ini,
bagaimana sesungguhnya peran gerakan kebudayaan dalam memulihkan peradaban dan
di mana tugas penyair dalam hal ini?
Peradaban dan Gerakan Kebudayaan
Sebagaimana
yang kita ketahui bahwa wacana kebudayaan bukanlah hal baru. Sejak kecil kita
sudah diajarkan untuk hidup berbudaya. Misalnya, nasehat jangan rakus, jangan
jahat, jangan mengganggu, jangan menyakiti, bermusyawarahlah dan lain-lain. Di
sinilah nilai luhur sebuah kebudayaan. Semua itu bukanlah jargon kosong, tetapi
memiliki makna dan menjadi pertanda hidupnya nilai-nilai kemanusiaan.
E.B.
Tylor (1871)[8]
menyebutkan kebudayaan itu sebagai keseluruhan aktivitas manusia, termasuk
pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, dan
kebiasaan-kebiasaan lain. Hal ini sejalan dengan makna yang dituangkan oleh
Marvin Harris (1999)[9]
bahwa kebudayaan adalah seluruh aspek kehidupan manusia dalam masyarakat, yang
diperoleh dengan cara belajar, termasuk pikiran dan tingkah laku. Kedua
definisi dari yang tertua sampai yang mutakhir ini mengindikasikan kepada kita
bahwa pentingnya kebudayaan dalam mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan dan
peradaban.
Dalam
konteks inilah gerakan kebudayaan dikaitkan. Asumsinya adalah untuk
menyelesaikan masalah secara bermartabat. Ia mengedepankan toleransi,
menghargai keberagaman dan melahirkan kedamaian. Ia juga mampu melonggarkan
ego-ego sempit, mempertinggi solidaritas, memperkuat partisipasi dan membangun
kesadaran.
Ibarat
orang yang sedang membuka lembar buku putih kehidupannya, tentunya ia ingin
membangun kembali kesepakatan hidup yang lebih bermartabat. Demikian pula
hendaknya proses pemulihan peradaban diawali, dengan membangun gerakan pikiran
dan ketajaman hati. Pikiran yang mengedepankan khazanah lokal suatu bangsa,
prinsip-prinsip agama yang humanis, setara dan berkeadilan. Memulainya dengan
pikiran-pikiran yang lepas namun bertanggung jawab, berdialog dengan hati,
berbicara dengan banyak sisi kehidupan dan jenis manusia.
Langkah
lainnya yang patut diperhitungkan dalam gerakan kebudayaan ini adalah bersih
dari kepentingan praktis-individualis, menata ulang peta perjalanan dunia
maupun negeri, membangun kekuatan jaringan antar individu dan kelompok, tanpa
membawa baju kebesaran masing-masing. Ragam perbedaan jelas membuka peluang
konflik, karena itulah konflik mesti dikelola. Ia bukan sesuatu yang harus
ditakuti atau dihindari atau bahkan ditumpas dengan darah dan kematian, tetapi
sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan untuk mengasah ketajaman hati
melalui gerakan pikiran yang bertanggungjawab.
Di
tengah hiruk pikuk perbedaan keyakinan, suku dan bangsa, di tengah tumpukan ragam
mata uang untuk pemulihan Negara-negara yang sedang tumbang, di tengah beragamnya
penyelesaian konflik, di sinilah martabat manusia itu diuji, dipertaruhkan dan
diperjuangkan. Adakah lalu lintas perbedaan itu mampu mengetuk hati dan memberi
keadilan bagi semua pihak? Adakah ragam mata uang itu merata dan tidak hanya
menyejahterakan diri dan kelompok semata? Adakah pembangunan itu melibatkan
semua komponen, termasuk perempuan? Inilah semangat kebudayaan itu, ketika hati
dan pikiran terasah disaat peluang dan kekuasaan di genggaman, di saat
perbedaan semakin tajam dan menggema.
Ujian
itu ada di berbagai lintas, mulai dari lintas terkecil --rumah tangga, perkawanan,
pekerjaan, pemerintahan, hubungan antar Negara dan apa saja yang terkait dengan
relasi kehidupan. Karena itu, sepatutnya gerakan kebudayaan menjadi pendekatan
dalam pemulihan peradaban hari ini dengan melepaskan slogan-slogan basa-basi
dan penuh kamuflase serta mengedepankan etika politik dalam setiap persoalan.
Betapa
hidup itu indah dengan saling menghargai dan mendengar. Hidup itu bermakna
dengan saling berbagi dan melengkapi. Sudah saatnya keberagaman kita rayakan, kebudayaan
kita banggakan, pikiran-hati kita fungsikan. Lantas, bagaimana semua ini dapat
diasah dan dikembangkan kembali? Karena berbagai kajian sudah dilakukan
terhadap persoalan-persoalan di atas, berbagai laporan pun telah dihasilkan
baik dalam bentuk buku, seminar-seminar, konferensi dan sebagainya, bahkan
peraturan-peraturan pun silih berganti lahir. Namun, kondisi kritis terus
terjadi, kepekaan kian jauh dari manusia, pertumpahan darah di mana-mana,
perang tak berhenti. Disilah salah satu pentingnya peran bahasa dan sastra.
Penyair dan Pisau Bahasa
Penyair
adalah salah satu bagian penting dari orang-orang yang menggerakan kebudayaan. Mereka
hadir untuk mengabarkan dan menggugat peristiwa dengan ketajaman bathin.
Menguatkan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang tumpul, kepekaan yang luntur; agar
yang padam kembali nyala, yang samar kembali tampak, yang bisu tersuarakan,
yang tak terdengar tersampaikan. Mereka mampu mengajak merenung dengan bahasa spiritual
yang tangguh dan menjahit peristiwa demi peristiwa dengan benang bahasa dan
sastra yang kaya warna, penuh pisau dalam metafora, analogi bahkan dalam bahasa
yang penuh bara. Meski pemulihan peradaban tidak semudah membalikkan telapak
tangan. Penyair bukan nabi, penyair bukan Tuhan, tetapi tugas penyair adalah
bagian penting untuk menyelamatkan peradaban yang mulai punah. Mengajak kita
untuk terus berbudaya, serta berbudi dan berdaya.
Aristoteles menggambarkan karya
sastra (baca: puisi) sebagai cerminan dunia (mimesis dalam bahasa Yunani)[10].
Pemikiran ini banyak menjadi panutan bagi para pakar modern untuk mempelajari
karya sastra dalam kaitannya dengan kebudayaan dan mempelajari kebudayaan
melalui karya satra. Dua orang di antara pengikut pemikiran ini adalah M.H.
Abrams dan Paul Ricoeur. Salah satu pendekatan yang ditawarkan oleh Abrams[11]
adalah mimetic, yaitu sebuah aspek
referensial dan acuan karya satra pada dunia nyata. Sedangkan Paul Ricoeur[12]
mengatakan bahwa dalam karya sastra (baca: puisi) merupakan wujud yang paling
tepat dalam konsep mengada-dalam-dunia.
Mari kita simak dua puisi Rendra,
seorang penyair ternama dari Indonesia yang sering dijuluki dengan “Burung
Merak”:
“menghisap sebatang lisong/melalui
Indonesia Raya/mendengar 130 juta rakyat/dan di langit dua tiga cukung
mengangkang/berak di atas kepala mereka/matahari terbit/fajar tiba/dan aku
melihat delapan juta kanak-kanak/tanpa pendidikan/aku bertanya/tetapi
pertanyaan-pertanyaanku/membentur meja kekuasaan yang macet/dan papantulis-papantulis
para pendidik/yang terlepas dari persoalan kehidupan.” (nukilan puisi “Sebatang
Lisong”).[13]
“Angin gunung turun merembes ke
hutan/lalu bertiup di atas permukaan kali yang luas/dan akhirnya berumah di
daun-daun tembakau/kemudian hatinya pilu/melihat jejak-jejak para
petani-buruh/yang terpacak di atas tanah gembur/namun tidak memberi kemakmuran
bagi penduduknya.” (nukilan puisi “Sajak Burung-burung Kondor”)[14].
Dua
nukilan puisi di atas sangat kuat menangkap realitas dalam sebuah negeri yang
carut marut, penuh kemiskinan dan ketidakpedulian terhadap nasib generasi dan
jelata. Puisi yang sarat dengan ketajaman sosial dan penuh kritik yang
membangun. Begitulah Rendra menyuarakan segala bentuk ketidakadilan di bumi
dimana ia berpijak, Indonesia Raya. Konteks yang hingga hari ini masih terjadi
dan berlaku universal.
Kita lihat lagi puisi yang penuh
kekuatan spiritual dari Penyair Sufi Jalaluddin Rumi dan Dato’ Dr. Kemala:
“The springtime of Lovers has come/that
this dust bowl may become a garden/the proclamation of heaven has come/that the
bird of the soul may rise in flight/the sea becomes full of pearls/the salt
mars becomes sweet as kauthar/the stones becomes a ruby from the mine/the body
becomes wholly soul.” (Jalaluddin Rumi)[15]
“Suatu bunyi suatu
lengking kecil/bangun menyapa/renung diri!/suatu bisik suatu risik
nyaman/mendepani hening sepi/meditasi!” (Nukilan syair meditasi, Dato’ Dr.
Kemala[16])
Dua nukilan puisi di atas memberi sebuah renungan
yang tinggi tentang makna tafakkur dan kecintaan yang besar untuk berkhalwat
dengan Tuhan dalam penemuan diri dan keabadian. Betapa tidak ada yang sulit
bagi hati yang penuh cinta dan tawakkal kepada Yang Kuasa, betapa tidak ada
yang meresahkan ketika diri bertemu jiwa dan menyadari hakikatnya.
Selanjutnya, mari kita lihat ketika
perempuan mengungkapkan kata dalam sastra:
“In love/nothing exists between heart
and heart/speech is born out of longing/true description from the real
taste/the one who tastes/knows;/the one who explains, lies/how can you describe
the true from of something/in whose presence youe are blotted out?/and in whose
being you still exist?/and who lives as a sign for your journey.” (Rabia al Basri: Reality)[17]
“…who makes me know all men will leave me/if I
love them/father who made me a maverick/a writer/a namer” (Diane Wakoshi
dalam puisinya: The Father of My
Country)[18]
“when
she died/a man saw white doves/fly from her mouth” (Eileen Myles dalam
puisinya: Joan”[19]
Tiga
contoh puisi di atas menggambarkan kepada kita betapa ada suara lain dalam
kehidupan ini yang berangkat dari pengalaman dan kepentingan hidup kaum
perempuan yang merupakan pintu masuk bicara kepedulian dan peradaban. Inilah
essensi suara penyair ketika gendrang juga bertabuh dari irama kaum perempuan.
Kesimpulan
Puisi
adalah panggilan jiwa. Puisi adalah tentang kehidupan. Dan, puisi adalah
menghidupkan. Karena itu, suara penyair begitu penting dalam membaca, mengolah,
mempertautkan kehidupan dan menjadikan bahasa sebagai senjata pemulihan
peradaban dan pengekalan nilai-nilai kemanusiaan. Di sinilah pentingnya penyair
dalam ikut memulihkan krisis di abad ke 21 ini. Semoga suara penyair kian
bergema dalam membelah kehidupan yang sesak, kian tajam dalam memasukkan
nilai-nilai spiritual dan kian lantang menyuarakan kebenaran. Dengan puisi kita
memanusiakan diri dan sekitar. Dengan puisi:
anak, remaja, orang tua, kaum jelata, lelaki, perempuan dan siapa pun
mampu menyuarakan kehidupan dan menghidupkan kebudayaan dengan cara dan
bahasanya sendiri.
(*Beberapa di antara point tulisan ini
pernah dimuat di Kolom Analisis Harian Aceh Independen, Maret 2009).
Daftar
Pustaka
Abrams, M.H.,
1999. A Glossary A Literary Term, 7th
Edition. Boston: Heinle & Heinle
Ahmad Kamal Abdullah, 2011, Meditasi Dampak 70, Kuala Lumpur, Insandi Sdn Bhd.
E.B. Taylor, E.B., 1971. Primitive Culture. J. Murray, London.
Deepak Chopra, Deepak (Ed), 1998. The Love Poems of Rumi. New York: Random
House, Inc.
Djohar, Zubaidah, 2009. Questioning peace: is there a justice for women the victim of sexual
assault? Banda Aceh: Aceh Institute Press.
Harris, Marvin, 1999, Theories of Culture in Postmodern Times. New York: Altamira Press.
Ricoeur, Paul. 2009. Hermeneutika Ilmu Sosial. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Rendra, 1996, Potret
Pembangunan dalam Puisi, Jakarta, Penerbit Pustaka Jaya.
Moore, Honor, 2009.
Poets From The Women’s Movement.
PoetryDaily. USA: Literacy Classics of the United.
---------
ICRC, 2012. Nepal:
Women from Opposing Sides of The Conflict. http://www.icrc.org/eng/resources/documents/news-footage/2012/nepal-tvnews-2012-03-06.htm
Jonathan D, Quick and Mayssa El Khazen, June 2010.
Injustice, Impact, Inspiration: Women, The MDGs, and Faith. CCIH
Annual Conference. http://www.ccih.org/Women-MDGs-Faith-JQuick-MElKhazen-CCIH-June2010.pdf
Maria Villelas Arino, June 2008. Nepal a Gender View of the Armed Conflict
and The Peace Process. http://escolapau.uab.cat/img/qcp/nepal_conflict_peace.pdf
2004. Rabia Al Basri Poem. PoemHunter.Com-The
World’s Poetry Archive. http://www.poemhunter.com/i/ebooks/pdf/rabia_al_basri_2004_9.pdf
The Forgotten Frontline: The Effects of War on
Women. http://www.rescue.org/forgotten-frontline-effects-war-women
The
Hunger Project. Empowering Women as Key
Change Agents. http://www.thp.org/what_we_do/program_overview/empowering_women?gclid=CKT85fiIzbICFQV66wod_CEAQg
[1] Jonathan D, Quick and Mayssa El Khazen, Injustice, Impact, Inspiration: Women, The MDGs, and Faith. CCIH
Annual Conference. June 2010 http://www.ccih.org/Women-MDGs-Faith-JQuick-MElKhazen-CCIH-June2010.pdf
[2] The Forgotten Frontline: The
Effects of War on Women. http://www.rescue.org/forgotten-frontline-effects-war-women
[3] Human Right Watch. World
Report 2012: Serbia. http://www.hrw.org/world-report-2012/serbia
[4] ICRC, Nepal: Women from
Opposing Sides of The Conflict. 2012
[5] Maria Villelas Arino, June 2008. Nepal a Gender View of the Armed Conflict and The Peace Process. http://escolapau.uab.cat/img/qcp/nepal_conflict_peace.pdf
[6] Zubaidah Djohar, Questioning
peace: is there a justice for women the victim of sexual assault? Banda
Aceh: Aceh Institute Press. 2009.
[7] The Hunger Project, Empowering
Women as Key Change Agents. http://www.thp.org/what_we_do/program_overview/empowering_women?gclid=CKT85fiIzbICFQV66wod_CEAQg
[8] E.B. Taylor, Primitive
Culture. J. Murray, London, 1971.
[9] Marvin Harris, Theories of
Culture in Postmodern Times. New York:
Altamira Press, 1999.
[10] M.H. Abrams, A Glossary A Literary Term, 7th Edition. Boston: Heinle
& Heinle, 1999.
[11] Ibid.,
[12] Paul Ricoeur, Hermeneutika Ilmu Sosial. Yogyakarta:
Kreasi Wacana, 2009.
[13] Rendra, Potret Pembangunan
dalam Puisi, Jakarta, Penerbit Pustaka Jaya, 1996.
[14] Ibid.,
[15] Deepak Chopra (Ed), The Love
Poems of Rumi. New York: Random House, Inc, 1998.
[16] Ahmad Kamal Abdullah, Kemala
Meditasi Dampak 70, Insandi Sdn Bhd, Kuala Lumpur, 2011.
[17] Rabia Al Basri Poem.
PoemHunter.Com-The World’s Poetry Archive, 2004. http://www.poemhunter.com/i/ebooks/pdf/rabia_al_basri_2004_9.pdf
[18] Honor Moore, Poets From The
Women’s Movement. PoetryDaily. USA: Literacy Classics of the United.
States, Inc, 2009. http://www.loa.org/images/pdf/304/Honor_Moore_interview.pdf
[19] Ibid.,
menyimak dengan penuh kebebalan .. terbengongbengong ..
ReplyDelete