Friday, 22 March 2013

Penyair, Peradaban, dan Krisis Abad ke-21

Tidak bisa dipungkiri bahwa di abad ke-21, dunia semakin rentan terhadap situasi politik, ekonomi, sosial, hukum dan budaya. Hal ini disebabkan oleh arus perkembangan zaman yang mengabaikan kekuatan kebudayaan dan pembangunan Negeri yang sering dicapai dengan cara instant dan lupa pada etika politik.

Alam raya yang makin terasing dari penghuninya, kelestarian  hutan yang tak terjaga dan berdampak pada munculnya banjir dan gersangnya bumi, masyarakat kian terasing di tanahnya sendiri dan sebagainya. Belum lagi persoalan pendidikan yang abai terhadap kekayaan budaya lokal, kebutuhan khusus dan keunikan generasi. Persoalan-persoalan ekonomi yang kian abai terhadap kesejahteraan pedagang kecil dan rakyat kecil.
Persoalan politik yang banyak melahirkan perang, pertumpahan darah, kematian, kehilangan harta benda serta hukum yang mandul. Korupsi yang kian merajalela dan kesehatan masyarakat kecil yang luput dari perhatian dan tanggungjawab Negara, terutama di Negara-negara yang sedang berkembang dan yang belum berkembang. Dan, hal yang paling krusial dalam perkembangan mental adalah menipisnya kesadaran sebagai manusia, rusaknya karakter diri dan berbagai persoalan lainnya.
Adapun yang paling mengalami dampak terburuk dari ragam situasi di atas adalah perempuan[1]: menjadi tameng dan objek penundukan oleh pihak lawan ketika konflik[2] (lihat Serbia[3], Nepal[4], Afrika[5], Aceh[6], dst), mengalami kemiskinan terberat[7] dan seterusnya. Bila kondisi di atas terus dibiarkan berlarut-larut dan tidak diselesaikan dengan penuh tanggung jawab, maka peradaban akan terguncang, rasa kemanusiaan terkikis, dan pelan-pelan akan habis. Menyadari realitas ini, bagaimana sesungguhnya peran gerakan kebudayaan dalam memulihkan peradaban dan di mana tugas penyair dalam hal ini?

Peradaban dan Gerakan Kebudayaan
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa wacana kebudayaan bukanlah hal baru. Sejak kecil kita sudah diajarkan untuk hidup berbudaya. Misalnya, nasehat jangan rakus, jangan jahat, jangan mengganggu, jangan menyakiti, bermusyawarahlah dan lain-lain. Di sinilah nilai luhur sebuah kebudayaan. Semua itu bukanlah jargon kosong, tetapi memiliki makna dan menjadi pertanda hidupnya nilai-nilai kemanusiaan. 
E.B. Tylor (1871)[8] menyebutkan kebudayaan itu sebagai keseluruhan aktivitas manusia, termasuk pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan lain. Hal ini sejalan dengan makna yang dituangkan oleh Marvin Harris (1999)[9] bahwa kebudayaan adalah seluruh aspek kehidupan manusia dalam masyarakat, yang diperoleh dengan cara belajar, termasuk pikiran dan tingkah laku. Kedua definisi dari yang tertua sampai yang mutakhir ini mengindikasikan kepada kita bahwa pentingnya kebudayaan dalam mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban.
Dalam konteks inilah gerakan kebudayaan dikaitkan. Asumsinya adalah untuk menyelesaikan masalah secara bermartabat. Ia mengedepankan toleransi, menghargai keberagaman dan melahirkan kedamaian. Ia juga mampu melonggarkan ego-ego sempit, mempertinggi solidaritas, memperkuat partisipasi dan membangun kesadaran.
Ibarat orang yang sedang membuka lembar buku putih kehidupannya, tentunya ia ingin membangun kembali kesepakatan hidup yang lebih bermartabat. Demikian pula hendaknya proses pemulihan peradaban diawali, dengan membangun gerakan pikiran dan ketajaman hati. Pikiran yang mengedepankan khazanah lokal suatu bangsa, prinsip-prinsip agama yang humanis, setara dan berkeadilan. Memulainya dengan pikiran-pikiran yang lepas namun bertanggung jawab, berdialog dengan hati, berbicara dengan banyak sisi kehidupan dan jenis manusia.
Langkah lainnya yang patut diperhitungkan dalam gerakan kebudayaan ini adalah bersih dari kepentingan praktis-individualis, menata ulang peta perjalanan dunia maupun negeri, membangun kekuatan jaringan antar individu dan kelompok, tanpa membawa baju kebesaran masing-masing. Ragam perbedaan jelas membuka peluang konflik, karena itulah konflik mesti dikelola. Ia bukan sesuatu yang harus ditakuti atau dihindari atau bahkan ditumpas dengan darah dan kematian, tetapi sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan untuk mengasah ketajaman hati melalui gerakan pikiran yang bertanggungjawab.
Di tengah hiruk pikuk perbedaan keyakinan, suku dan bangsa, di tengah tumpukan ragam mata uang untuk pemulihan Negara-negara yang sedang tumbang, di tengah beragamnya penyelesaian konflik, di sinilah martabat manusia itu diuji, dipertaruhkan dan diperjuangkan. Adakah lalu lintas perbedaan itu mampu mengetuk hati dan memberi keadilan bagi semua pihak? Adakah ragam mata uang itu merata dan tidak hanya menyejahterakan diri dan kelompok semata? Adakah pembangunan itu melibatkan semua komponen, termasuk perempuan? Inilah semangat kebudayaan itu, ketika hati dan pikiran terasah disaat peluang dan kekuasaan di genggaman, di saat perbedaan semakin tajam dan menggema.
Ujian itu ada di berbagai lintas, mulai dari lintas terkecil --rumah tangga, perkawanan, pekerjaan, pemerintahan, hubungan antar Negara dan apa saja yang terkait dengan relasi kehidupan. Karena itu, sepatutnya gerakan kebudayaan menjadi pendekatan dalam pemulihan peradaban hari ini dengan melepaskan slogan-slogan basa-basi dan penuh kamuflase serta mengedepankan etika politik dalam setiap persoalan.
Betapa hidup itu indah dengan saling menghargai dan mendengar. Hidup itu bermakna dengan saling berbagi dan melengkapi. Sudah saatnya keberagaman kita rayakan, kebudayaan kita banggakan, pikiran-hati kita fungsikan. Lantas, bagaimana semua ini dapat diasah dan dikembangkan kembali? Karena berbagai kajian sudah dilakukan terhadap persoalan-persoalan di atas, berbagai laporan pun telah dihasilkan baik dalam bentuk buku, seminar-seminar, konferensi dan sebagainya, bahkan peraturan-peraturan pun silih berganti lahir. Namun, kondisi kritis terus terjadi, kepekaan kian jauh dari manusia, pertumpahan darah di mana-mana, perang tak berhenti. Disilah salah satu pentingnya peran bahasa dan sastra.

Penyair dan Pisau Bahasa
Penyair adalah salah satu bagian penting dari orang-orang yang menggerakan kebudayaan. Mereka hadir untuk mengabarkan dan menggugat peristiwa dengan ketajaman bathin. Menguatkan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang tumpul, kepekaan yang luntur; agar yang padam kembali nyala, yang samar kembali tampak, yang bisu tersuarakan, yang tak terdengar tersampaikan. Mereka mampu mengajak merenung dengan bahasa spiritual yang tangguh dan menjahit peristiwa demi peristiwa dengan benang bahasa dan sastra yang kaya warna, penuh pisau dalam metafora, analogi bahkan dalam bahasa yang penuh bara. Meski pemulihan peradaban tidak semudah membalikkan telapak tangan. Penyair bukan nabi, penyair bukan Tuhan, tetapi tugas penyair adalah bagian penting untuk menyelamatkan peradaban yang mulai punah. Mengajak kita untuk terus berbudaya, serta berbudi dan berdaya.
            Aristoteles menggambarkan karya sastra (baca: puisi) sebagai cerminan dunia (mimesis dalam bahasa Yunani)[10]. Pemikiran ini banyak menjadi panutan bagi para pakar modern untuk mempelajari karya sastra dalam kaitannya dengan kebudayaan dan mempelajari kebudayaan melalui karya satra. Dua orang di antara pengikut pemikiran ini adalah M.H. Abrams dan Paul Ricoeur. Salah satu pendekatan yang ditawarkan oleh Abrams[11] adalah mimetic, yaitu sebuah aspek referensial dan acuan karya satra pada dunia nyata. Sedangkan Paul Ricoeur[12] mengatakan bahwa dalam karya sastra (baca: puisi) merupakan wujud yang paling tepat dalam konsep mengada-dalam-dunia.
            Mari kita simak dua puisi Rendra, seorang penyair ternama dari Indonesia yang sering dijuluki dengan “Burung Merak”:
“menghisap sebatang lisong/melalui Indonesia Raya/mendengar 130 juta rakyat/dan di langit dua tiga cukung mengangkang/berak di atas kepala mereka/matahari terbit/fajar tiba/dan aku melihat delapan juta kanak-kanak/tanpa pendidikan/aku bertanya/tetapi pertanyaan-pertanyaanku/membentur meja kekuasaan yang macet/dan papantulis-papantulis para pendidik/yang terlepas dari persoalan kehidupan.” (nukilan puisi “Sebatang Lisong”).[13]
“Angin gunung turun merembes ke hutan/lalu bertiup di atas permukaan kali yang luas/dan akhirnya berumah di daun-daun tembakau/kemudian hatinya pilu/melihat jejak-jejak para petani-buruh/yang terpacak di atas tanah gembur/namun tidak memberi kemakmuran bagi penduduknya.” (nukilan puisi “Sajak Burung-burung Kondor”)[14].
Dua nukilan puisi di atas sangat kuat menangkap realitas dalam sebuah negeri yang carut marut, penuh kemiskinan dan ketidakpedulian terhadap nasib generasi dan jelata. Puisi yang sarat dengan ketajaman sosial dan penuh kritik yang membangun. Begitulah Rendra menyuarakan segala bentuk ketidakadilan di bumi dimana ia berpijak, Indonesia Raya. Konteks yang hingga hari ini masih terjadi dan berlaku universal.
            Kita lihat lagi puisi yang penuh kekuatan spiritual dari Penyair Sufi Jalaluddin Rumi dan Dato’ Dr. Kemala:
“The springtime of Lovers has come/that this dust bowl may become a garden/the proclamation of heaven has come/that the bird of the soul may rise in flight/the sea becomes full of pearls/the salt mars becomes sweet as kauthar/the stones becomes a ruby from the mine/the body becomes wholly soul.” (Jalaluddin Rumi)[15]
“Suatu bunyi suatu lengking kecil/bangun menyapa/renung diri!/suatu bisik suatu risik nyaman/mendepani hening sepi/meditasi!” (Nukilan syair meditasi, Dato’ Dr. Kemala[16])
Dua nukilan puisi di atas memberi sebuah renungan yang tinggi tentang makna tafakkur dan kecintaan yang besar untuk berkhalwat dengan Tuhan dalam penemuan diri dan keabadian. Betapa tidak ada yang sulit bagi hati yang penuh cinta dan tawakkal kepada Yang Kuasa, betapa tidak ada yang meresahkan ketika diri bertemu jiwa dan menyadari hakikatnya.
            Selanjutnya, mari kita lihat ketika perempuan mengungkapkan kata dalam sastra:
“In love/nothing exists between heart and heart/speech is born out of longing/true description from the real taste/the one who tastes/knows;/the one who explains, lies/how can you describe the true from of something/in whose presence youe are blotted out?/and in whose being you still exist?/and who lives as a sign for your  journey.” (Rabia al Basri: Reality)[17]
 “…who makes me know all men will leave me/if I love them/father who made me a maverick/a writer/a namer” (Diane Wakoshi dalam  puisinya: The Father of My Country)[18]
“when she died/a man saw white doves/fly from her mouth” (Eileen Myles dalam puisinya: Joan”[19]
            Tiga contoh puisi di atas menggambarkan kepada kita betapa ada suara lain dalam kehidupan ini yang berangkat dari pengalaman dan kepentingan hidup kaum perempuan yang merupakan pintu masuk bicara kepedulian dan peradaban. Inilah essensi suara penyair ketika gendrang juga bertabuh dari irama kaum perempuan.

Kesimpulan
Puisi adalah panggilan jiwa. Puisi adalah tentang kehidupan. Dan, puisi adalah menghidupkan. Karena itu, suara penyair begitu penting dalam membaca, mengolah, mempertautkan kehidupan dan menjadikan bahasa sebagai senjata pemulihan peradaban dan pengekalan nilai-nilai kemanusiaan. Di sinilah pentingnya penyair dalam ikut memulihkan krisis di abad ke 21 ini. Semoga suara penyair kian bergema dalam membelah kehidupan yang sesak, kian tajam dalam memasukkan nilai-nilai spiritual dan kian lantang menyuarakan kebenaran. Dengan puisi kita memanusiakan diri dan sekitar. Dengan puisi:  anak, remaja, orang tua, kaum jelata, lelaki, perempuan dan siapa pun mampu menyuarakan kehidupan dan menghidupkan kebudayaan dengan cara dan bahasanya sendiri.
(*Beberapa di antara point tulisan ini pernah dimuat di Kolom Analisis Harian Aceh Independen, Maret 2009).
Daftar Pustaka

Abrams, M.H.,  1999.  A Glossary A Literary Term, 7th Edition. Boston: Heinle & Heinle 

Ahmad Kamal Abdullah, 2011, Meditasi Dampak 70, Kuala Lumpur, Insandi Sdn Bhd.

E.B. Taylor, E.B., 1971. Primitive Culture. J. Murray, London.

Deepak Chopra, Deepak (Ed), 1998. The Love Poems of Rumi. New York: Random House, Inc.

Djohar, Zubaidah, 2009. Questioning peace: is there a justice for women the victim of sexual assault? Banda Aceh: Aceh Institute Press.

Harris, Marvin, 1999, Theories of Culture in Postmodern Times. New York: Altamira Press.

Ricoeur, Paul. 2009. Hermeneutika Ilmu Sosial. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Rendra, 1996, Potret Pembangunan dalam Puisi, Jakarta, Penerbit Pustaka Jaya.

Moore, Honor, 2009.  Poets From The Women’s Movement. PoetryDaily. USA: Literacy Classics of the United.

---------

Human Right Watch. World Report 2012: Serbia. http://www.hrw.org/world-report-2012/serbia

ICRC, 2012. Nepal: Women from Opposing Sides of The Conflict. http://www.icrc.org/eng/resources/documents/news-footage/2012/nepal-tvnews-2012-03-06.htm

Jonathan D, Quick and Mayssa El Khazen, June 2010.  Injustice, Impact, Inspiration: Women, The MDGs, and Faith. CCIH Annual Conference. http://www.ccih.org/Women-MDGs-Faith-JQuick-MElKhazen-CCIH-June2010.pdf

Maria Villelas Arino, June 2008. Nepal a Gender View of the Armed Conflict and The Peace Process. http://escolapau.uab.cat/img/qcp/nepal_conflict_peace.pdf

2004.  Rabia Al Basri Poem. PoemHunter.Com-The World’s Poetry Archive. http://www.poemhunter.com/i/ebooks/pdf/rabia_al_basri_2004_9.pdf

The Forgotten Frontline: The Effects of War on Women. http://www.rescue.org/forgotten-frontline-effects-war-women



[1] Jonathan D, Quick and Mayssa El Khazen, Injustice, Impact, Inspiration: Women, The MDGs, and Faith. CCIH Annual Conference. June 2010 http://www.ccih.org/Women-MDGs-Faith-JQuick-MElKhazen-CCIH-June2010.pdf
[2] The Forgotten Frontline: The Effects of War on Women. http://www.rescue.org/forgotten-frontline-effects-war-women
[3] Human Right Watch. World Report 2012: Serbia. http://www.hrw.org/world-report-2012/serbia
[4] ICRC, Nepal: Women from Opposing Sides of The Conflict. 2012
[5] Maria Villelas Arino, June 2008. Nepal a Gender View of the Armed Conflict and The Peace Process. http://escolapau.uab.cat/img/qcp/nepal_conflict_peace.pdf
[6] Zubaidah Djohar, Questioning peace: is there a justice for women the victim of sexual assault? Banda Aceh: Aceh Institute Press. 2009.
[8] E.B. Taylor, Primitive Culture.  J. Murray, London,  1971.
[9] Marvin Harris, Theories of Culture in Postmodern Times. New York:  Altamira Press, 1999.
[10] M.H. Abrams,  A Glossary A Literary Term, 7th Edition. Boston: Heinle & Heinle, 1999. 
[11] Ibid.,
[12] Paul Ricoeur,  Hermeneutika Ilmu Sosial. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2009.
[13] Rendra, Potret Pembangunan dalam Puisi, Jakarta, Penerbit Pustaka Jaya, 1996.
[14] Ibid.,
[15] Deepak Chopra (Ed), The Love Poems of Rumi. New York: Random House, Inc, 1998.
[16] Ahmad Kamal Abdullah, Kemala Meditasi Dampak 70, Insandi Sdn Bhd, Kuala Lumpur, 2011.
[17] Rabia Al Basri Poem. PoemHunter.Com-The World’s Poetry Archive, 2004. http://www.poemhunter.com/i/ebooks/pdf/rabia_al_basri_2004_9.pdf
[18] Honor Moore, Poets From The Women’s Movement. PoetryDaily. USA: Literacy Classics of the United. States, Inc, 2009. http://www.loa.org/images/pdf/304/Honor_Moore_interview.pdf
[19] Ibid.,

1 comment: